Pop Mart dan Sony Pictures Entertainment secara resmi mengumumkan akan menggarap film layar lebar berbasis karakter ikonik Labubu, boneka koleksi bertampang “ugly-cute” yang telah menjadi fenomena global. Pengumuman ini disampaikan dalam acara pameran tur global perayaan 10 tahun The Monsters di Paris, Maret 2026.
Sutradara Berpengalaman di Balik Proyek Besar
Film ini akan disutradarai dan diproduseri oleh Paul King, sineas asal Inggris yang dikenal luas melalui dua film Paddington dan Wonka yang meraup lebih dari 635 juta dolar AS di seluruh dunia. King juga akan turut menulis naskah bersama Steven Levenson, penulis pemenang penghargaan Tony yang dikenal melalui musikal Dear Evan Hansen. Kombinasi keduanya menjadikan proyek ini salah satu adaptasi mainan paling ambisius dari Hollywood dalam beberapa tahun terakhir.
Format Film dan Tim Kreatif
Film Labubu akan diproduksi dalam format hybrid live-action dan CGI, menghadirkan dunia fantasi karakter tersebut ke layar lebar. Kasing Lung, seniman asal Hong Kong yang dibesarkan di Belanda sekaligus pencipta karakter Labubu, akan berperan sebagai produser eksekutif untuk memastikan kemiripan pada visi orisinalnya. Tim produser juga mencakup Michael Schaefer, yang dikenal lewat The Martian, serta Wenxin She, sementara Brittany Morrissey mengawasi pengembangan proyek dari pihak Sony Pictures.
Dari Buku Bergambar ke Fenomena Koleksi Global
Labubu pertama kali diperkenalkan oleh Kasing Lung pada 2015 melalui trilogi buku bergambar The Monsters, yang menampilkan makhluk-makhluk fiktif dari dunia dongeng Eropa Utara. Pop Mart mulai mendistribusikan karakter tersebut dalam format mainan blind box sejak 2019, dan popularitasnya meledak secara global pada 2024 setelah anggota Blackpink, Lisa, terlihat menggunakannya sebagai aksesori. IP The Monsters tercatat menghasilkan pendapatan sekitar 700 juta dolar AS hanya dalam satu semester, menjadikannya tulang punggung bisnis Pop Mart.
Strategi Jangka Panjang Pop Mart
Langkah masuk ke industri film ini merupakan bagian dari strategi Pop Mart untuk bertransformasi dari perusahaan mainan menjadi merek hiburan global yang berkelanjutan. Para pengamat industri menilai kolaborasi dengan Sony sebagai pencapaian penting dalam upaya Pop Mart mendiversifikasi sumber pendapatannya, di tengah tekanan pasar setelah harga saham perusahaan sempat turun signifikan dari puncaknya. Jika berhasil, film Labubu berpotensi menjadi franchise sinematik yang mengikuti jejak kesuksesan film seperti Barbie yang meraup lebih dari satu miliar dolar AS secara global. Film ini masih dalam tahap pengembangan awal dan belum memiliki tanggal tayang resmi.
